Pages

Rabu, 06 Januari 2016

SICARIO ( Dennis Villeneuve ; 2015 ) : " A Thoughtful , Daring , yet Thought-Provoking Film of the year"



Apa yang ada di benak teman - teman moviegoers apabila mendengar kata 'Drug Cartel' ? Biasanya langsung terimaji sosok - sosok latino garang yang bertato , kadang - kadang giginya dilapis emas  , terus jalan jalan pake singlet., etc. Nah, film ini bisa dibilang mengejewantahkan stereotype tersebut namun tentunya dengan purpose yang jelas dan juga cenderung kontroversial.



Sicario dibuka dengan adegan penyerangan di suatu tempat yang diduga sebagai tempat persembunyian  korban penculikan, Namun, selepas serangan tersebut malah menuntun pasukan FBI yang dipimpin oleh Agen Kate Macy ( Emily Blunt ) ke kasus yang lebih mengerikan. Mengerikan bagi kita dan juga bagi Kate.

Keberanian Kate di operasi tersebut menarik perhatian seorang eksekutif, Matt ( Josh Brolin ) dan langsung menarik Kate untuk mengikuti operasi yang lebih lanjut. Ditemani oleh rekannya yang misterius Alejandro ( Benicio Del Toro ) , mereka berangkat menuju ke Juarez mencari sang biang keladi.


Sampai situ saja sinopsis singkat mengenai film ini karena akan mengurangi greget yang ada kalo kita lanjutin , sekarang kita fokus ke gagasan awal film ini dan outcome apa yang berhasil disampaikan oleh film ini. SPOILER ALERT !!





Sicario , menurut saya adalah film yang berani dan sangat thought-provoking, outcomenya ngajakin ngerenung banget, dengan karakterisasi yang sedari awal memang sudah obvious pun predictable khususnya bagi yang sudah terbiasa dengan gaya film yang sejenis ini. Nama Dennis Villeneuve sendiri mrupakan faktor yang membuat saya rela untuk terus mengikuti film ini sampai konklusi akhir karena Dennis memang selalu memberikan sekaligus membuat statement dari film - filmnya. termasuk Sicario ini. 

Kalau dari gagasan awal saya menyimpulkan Dennis memang sedikit berniat untuk meng-expose sekaligus mempertanyakan kembali soal stereotip ras yang sudah terlalu dianggap wajar banget di Hollywood sana. dibungkus dengan kemasan film yang accessible dan jelas. Tersirat soal grey area, innocence , consequences yang adalah aspek yang sebenarnya klise dari film semacam ini. Villeneuve tangkas sekali bisa memanfaatkan karakter minor dengan cara yang apik dan efisien terutama dalam 'menutup' klimaks sehingga memperjelas gagasan dan aspek - aspek yang ingin ditonjolkan tadi. Padahal cara seperti ini risky, lho

Sebenarnya patut dipertanyakan juga sih , kenapa seorang sineas seperti Dennis mau menggarap dengan formula yang klise. Segemas apakah dia dengan labeling di sana sehingga mau menggarap film ini. Di salah satu talkshow yang sempat saya tonton via YouTube, Ia mengatakan bahwa dirinya memang memiliki tujuan awal untuk 'Asking' daripada sekedar 'Giving' & 'Ending'. Entah apa yang mau dia 'Asking', Tapi yang saya lihat rasanya memang seperti itu. khususnya dalam penggunaan karakter minor dalam pengaruh ke konklusi keseluruhan film. Outcomenya bisa diasumsikan sebagai pernyataan atau sekaligus pertanyaan yang sangat relevan dengan keadaan yang krisis macam sekarang ini ( s.a Kekerasan vs Kekerasan, Polisi Korup, Korban yang nggak bersalah, etc) . Dengan menyempitkan sudut pandang ke sosok Kate yang masih ijo banget itu, kita dipaksa untuk innocent sebentar, lalu setelahnya marah melihat twist yang ada dengan ke-predictable-an yang anehnya seperti sudah sengaja ditonjolkan dari awal karakter itu muncul. Saya jadi penasaran deh sama isi kepala si Taylor Sheridan sang scriptwriter film ini.






Untuk tata teknisnya tidak usah diragukan lagi. Polesan sinematografi dari D.O.P handal seperti Roger Deakins makin membuat film bagaikan lukisan dan sinkron dengan berbagai retorika yang muncul dari konteks film ini. Sangatlah apik terutama ketika adegan dengan lighting redup. Contoh adegan penyerangan di terowongan yang menggunakan night vision atau adegan sbelumnya dimana kamera menangkap matahari terbenam menjelang maghrib sehingga membuat semua karakter  yang ada di adegan itu menjadi siluetis ( mungkin metafor dari 'kelak semua orang derajatnya sama' )

Dari sisi musik scoring juga memukau , Digubah oleh Johann Johannson dengan dominasi scoring bertempo rendah namun justru malah menaikkan intensitas dari tiap adegan. Tidak terlalu diumbar tetapi sangat efisien


Overall saya sangat kagum dengan feature Dennis untuk tahun ini. Dengan spirit yang berani dan thoughtful di tengah banyaknya serangan arus utama baru, Sicario adalah film yang membutuhkan penyimpulan konklusi lebih dari sekali dan layak untuk dibahas berkali-kali. So Guys if you feel so unsure about this movie after the first watching , Please do the re-watch and re-conclude  :)













Kamis, 25 September 2014

MY 2013's FAVORITE

Akhirnya tergoda juga untuk bikin list favorite tahun lalu. Karena tahun sebelumnya sudah sempet buat, rasanya kok tanggung kalo tahun ini nggak bikin. Berikut 10++ film 2013 favorite saya:

1. Good Ol' Freda ( Ryan White )

 - This doc topped my list.Ya, dari sekian dokumenter Beatles yang begitu exclusive, saya belum pernah merasa sebutuh ini. Good Ol' Freda seperti sebuah pengukuhan langsung secara humble terhadap beberapa proklaim soal "siapa sih yang official member ke-5 dari Beatles". Banyak yang menyebut Ben Epstein (manajer) sebagai unofficial 5th member dari BEATLES, Tapi mungkin jarang ada yang mengetahui soal asissten pribadi mereka yang bapaknya malah anti-Beatles. Beliau adalah Freda Kelly.

2. Spring Breakers ( Harmony Korine )

- Sebagai salah satu underdog auteurII ,Harmony Korine adalah salah satu dari beberapa yang konsisten dengan signature-nya dari awal ia menciptakan karya coming-of-age yang kontroversial; Gummo (1997) sampai menyoal ketersisihan yang dirasakan oleh beberapa figur yang teremehkan ; Mister Lonely ( 2007).Di balik warna -warni bikini , Spring Breakers sangat jujur dalam menggambarkan keapatisan remaja, risiko , juga rasa sesal yang begitu personal dikarenakan Korine berani mengkasting idola masa kini sebagai leadnya. Lagi -lagi sebuah what-if yang nekat disuguhkan oleh Korine.

3. Prince Avalanche ( David Gordon Green)
 
-Semenjak melejit lewat road-movie trippy -nya Pinneaple Express , orang akan mengenal beliau ( David Gordon Green ; red) sebagai sineas spesialis film komedi off-beat. Belum lagi beberapa film terbarunya seperti Your Highness dan The Sitter masih cukup segar di pasaran. Padahal beliau mengawali karirnya lewat coming-of-age kontemplatif yang brillian yakni George Washington ( 2000 ). Dan beliau adalah seorang penggemar berat Terence Malick. Prince Avalanche sendiri seperti curhat antar dua bujang yang sedang galau, tapi memberi metafora 'gersang' dan melihat Paul Rudd seakan orang bijak rasanya langka.

4. Blue Jasmine ( Woody Allen )

Woody Allen adalah specialist, kadang ia pun seakan teridentikan sebagai feminist (terlihat dari sering sekali beliau memakai wanita sebagai karakter sentral di filmnya). Dan memfokuskan masalah pasang surut kehidupan di filmnya pun bukan hal yang sulit baginya. Tapi melihat Cate Blanchett sebagai seorang ibu -ibu borju yang stress dengan jenaka adalah jarang. Saya surprise sekali.





5. The Machine Which Makes Everything Disappear



Ini bisa dibilang yang saya paling favoritkan pada tahun 2013, Bagaimana mungkin saya bisa lupa terhadap pemikiran dan niat sang filmmaker yang 'berpura - pura' mengadakan casting pada masing - masing penduduk padahal ia sedang mengulik kehidupan mereka yang sebenarnya sedang terjadi. Bisa dibilang sebuah semi-dokumenter , Film ini mengingatkan saya akan salah satu masterpiece dari sutradara asal iran ; Mokhsen Makhmalbaf yang berjudul ' Salaam Cinema '

Selasa, 21 Januari 2014

THE MISSING PICTURE ( 2013 ; Rithy Panh )





Tahun 2013 ini kita warga Indonesia sebangsa dan se-tanah air sedang dibanggakan (?) oleh terpilihnya salah satu film dokumenter di nominasi Oscar 2014 yang menggambarkan salah satu 'portfolio' kejam negara ini. Doku tersebut berjudul The Act of Killing . The Act of Killing adalah sebuah dokumenter gubahan Joshua Oppenheimer mengambil subjek terhadap sosok - sosok 'pahlawan' di belakang layar yang kita sendiri sebagai WNI mungkin belum pernah tahu siapa saja sosok -sosok tersebut. Mereka adalah pemberantas sisa - sisa PKI.

Eits, tapi tenang saja. Saya nggak akan ngebahas dokumenter tersebut karena saya sendiri juga belum sampai nonton seutuhnya, tapi kini saya akan mereview salah satu saingan The Act Of Killing dalam nominasi best picture Oscar 2014 yakni The Missing Picture a.k.a L'Image Manquante.

The Missing Picture mengambil flahback dari masa lalu yang kelam dari sutradaranya sendiri ; Rithy Panh sebagai salah satu korban kejahatan manusia oleh tentara sipil pada masa pemerintahan Pol-pot yag dinamakan pasukan Red-Khmer. Sebelumnya , sutradara yang berasal dari Kamboja ini memang sering menjadikan peristiwa kekejaman Pol-Pot dan Red Khmer nya sebagai objek dokumenter. Salah satunya adalah S21 : Khmer Rouge Killing Machine 9 ( 2003 ).


Yang menarik dari dokumenter ini adalah metode dari penceritaannya sendiri di mana sebagai sutradara seakan ia memikirkan dampak psikologis yang akan dialami penontonnya maka ia menggunakan boneka yang dibuat dari kayu serta merekonstruksi ulang keadaan saat itu lewat metode miniatur ( seperti yang pernah kita lihat di museum Lubang Buaya ).

Judulnya sendiri memang merefer kepada beberapa part footage rekaman yang hilang dari kejadian tersebut. Maka Rithy Panh pun berinisiatif 'menambal' beberapa kejadian yang tidak ter-recover dengan menggunakan miniatur -miniatur tersebut. Sungguh niat yang patut diberi salut.

Selasa, 31 Desember 2013

SPECIAL FEATURE 2013 : WHO ARE YOU IN THE MOVIES ?

Alhamdullilah , disamping banyaknya waktu luang yang saya punya, saya masih dikasih kesempatan untuk ikutan special project tahunan yang diprakarsai salah satu teman saya sesama blogger ; Lucky Ramadhan. Di special project ini saya dikasih tugas yakni untuk menggambarkan , kira - kira saya siapa sih kalo digambarkan dalam karakter film? Baiklah langsung aja yook.. :D

Leigh McCormack as Bud , exhilarated by his interest on film.
'The Long Day Closes' variant poster ( Terence Davies ; 1992 )

Yak itu dia. Saya memilih karakter Bud di film cantik arahan Terence Davies ( The Deep Blue Sea ; 2011 ) sebagai perwakilan diri saya dalam universe film. Karakter Bud disini sebetulnya mungkin adalah karakter dari kebanyakan moviegoers, atau malah mungkin semua moviegoers yang pernah merasakan masa - masa seperti yang dirasakan Bud di film ini. Ia sangat mencintai film , tanpa digambarkan dengan hiperbola yang aneh - aneh , kita bisa merasakan rasa cinta dia ke film dan keluarganya lewat siluet dan rangkuman momen-momen yang amat cantik.

The Long Day Closes sendiri secara tidak sengaja menjadi bagian dari sebuah dwilogi milik Davies, dihubungkan dengan film ia sebelumnya yakni Distant Voices , Still Lives ( 1982 )

Saya sendiri mengalami kesulitan menggambarkan film ini seperti apa, yang jelas film ini dengan karakter Bud -nya adalah salah satu rare gem tercantik dan ter-personal yang pernah saya rasakan. Karena Terence Davies sebenarnya 'hanya menggambarkan masa kecilnya yang ia lukiskan seindah mungkin dimana ironi ironi yang ada malah makin mempercantik suasana yang ada.

Tips: Siapin tisu segepok ya gan , kalo pingin nonton film ini. ;)