Pages

Selasa, 21 Januari 2014

THE MISSING PICTURE ( 2013 ; Rithy Panh )





Tahun 2013 ini kita warga Indonesia sebangsa dan se-tanah air sedang dibanggakan (?) oleh terpilihnya salah satu film dokumenter di nominasi Oscar 2014 yang menggambarkan salah satu 'portfolio' kejam negara ini. Doc tersebut berjudul The Act of Killing . The Act of Killing adalah sebuah dokumenter gubahan Joshua Opppenheimer mengambil subjek terhadap sosok - sosok 'pahlawan' di belakang layar yang kita sendiri sebagai WNI mungkin belum pernah tahu siapa saja sosok -sosok tersebut. Mereka adalah pemberantas sisa - sisa PKI.

Eits, tapi tenang saja. Saya nggak akan ngebahas dokumenter tersebut karena saya sendiri juga belum sampai nonton seutuhnya, tapi kini saya akan mereview salah satu saingan The Act Of Killing dalam nominasi best picture Oscar 2014 yakni The Missing Picture a.k.a L'Image Manquante.

The Missing Picture mengambil flahback dari masa lalu yang kelam dari sutradaranya sendiri ; Rithy Panh sebagai salah satu korban kejahatan manusia oleh tentara sipil pada masa pemerintahan Pol-pot yag dinamakan pasukan Red-Khmer. Sebelumnya , sutradara yang berasal dari Kamboja ini memang sering menjadikan peristiwa kekejaman Pol-Pot dan Red Khmer nya sebagai objek dokumenter. Salah satunya adalah S21 : Khmer Rouge Killing Machine 9 ( 2003 ).



Yang menarik dari dokumenter ini adalah metode dari penceritaannya sendiri di mana sebagai sutradara seakan ia memikirkan dampak psikologis yang akan dialami penontonnya maka ia menggunakan boneka yang dibuat dari kayu serta merekonstruksi ulang keadaan saat itu lewat metode miniatur ( seperti yang pernah kita lihat di museum Lubang Buaya ).

Judulnya sendiri memang merefer kepada beberapa part footage rekaman yang hilang dari kejadian tersebut. Maka Rithy Panh pun berinisiatif 'menambal' beberapa kejadian yang tidak ter-recover dengan menggunakan miniatur -miniatur tersebut. Sungguh niat yang patut diberi salut.


Selasa, 31 Desember 2013

SPECIAL FEATURE 2013 : WHO ARE YOU IN THE MOVIES ?

Alhamdullilah , disamping banyaknya waktu luang yang saya punya, saya masih dikasih kesempatan untuk ikutan special project tahunan yang diprakarsai salah satu teman saya sesama blogger ; Lucky Ramadhan. Di special project ini saya dikasih tugas yakni untuk menggambarkan , kira - kira saya siapa sih kalo digambarkan dalam karakter film? Baiklah langsung aja yook.. :D

Leigh McCormack as Bud , exhilarated by his interest on film.
'The Long Day Closes' variant poster ( Terence Davies ; 1992 )

Yak itu dia. Saya memilih karakter Bud di film cantik arahan Terence Davies ( The Deep Blue Sea ; 2011 ) sebagai perwakilan diri saya dalam universe film. Karakter Bud disini sebetulnya mungkin adalah karakter dari kebanyakan moviegoers, atau malah mungkin semua moviegoers yang pernah merasakan masa - masa seperti yang dirasakan Bud di film ini. Ia sangat mencintai film , tanpa digambarkan dengan hiperbola yang aneh - aneh , kita bisa merasakan rasa cinta dia ke film dan keluarganya lewat siluet dan rangkuman momen-momen yang amat cantik.

The Long Day Closes sendiri secara tidak sengaja menjadi bagian dari sebuah dwilogi milik Davies, dihubungkan dengan film ia sebelumnya yakni Distant Voices , Still Lives ( 1982 )

Saya sendiri mengalami kesulitan menggambarkan film ini seperti apa, yang jelas film ini dengan karakter Bud -nya adalah salah satu rare gem tercantik dan ter-personal yang pernah saya rasakan. Karena Terence Davies sebenarnya 'hanya menggambarkan masa kecilnya yang ia lukiskan seindah mungkin dimana ironi ironi yang ada malah makin mempercantik suasana yang ada.

Tips: Siapin tisu segepok ya gan , kalo pingin nonton film ini. ;)

Senin, 18 November 2013

12 YEARS A SLAVE ( 2013 ; Steve McQueen )





Slavery. Nggak enak ya didengernya, Perbudakan , dimana batin pasti tersiksa ketika disuruh - suruh padahal sudah melampaui batas , rasanya ingin marah tapi kekuatan sudah terkuras habis. Tapi mau nggak mau, masa - masa itu pernah terjadi. ; Karena setiap tempat pasti punya sejarah tertentu. Seperti kita di Indonesia ini, masa - masa perbudakan Romusha memang serasa pilu untuk diingat kembali.

Mungkin sudah banyak yang tahu kalo di negeri Paman Sam sana memang banyak akan sejarah -sejarah yang mencekam. Baik itu World War, Civil War  sampai ke Slavery yang sangat tidak mengenakkan bagi para penduduk keturunan kulit hitam. 12 Years A Slave ini , adalah salah satu buktinya.





Di Film garapan sutradara Steve McQueen yang juga berkulit hitam ini , kita diajak mengenal sosok seorang tokoh kulit hitam yang sebetulnya hidup mapan dan hidup harmonis dengan keluarga dan teman-temannya, Ia bernama Solomon Nothrup ( Chiwetel Ejiofor ) Namun karena ia hidup di masa perbudakan yang masih kental, ada saja pihak 'jahil' yang ingin memanfaatkannya karena harga untuk kaum yang sekelas Solomon, termasuk tinggi pada saat itu. Yeah, sounds inhuman.

12 Years A Slave merupakan sebuah rangkuman diari berjudul sama yang dikarang oleh seseorang yang benar - benar ada ; Solomon Northrup . Apa yang kita lihat dari rangkuman McQueen lewat film ini benar - benar terasa unbelieveable , susah untuk dipercaya kalau hal sebiadab ini pernah tercatat dalam salah satu sejarah terkelam yang pernah ada.

Berbeda dengan Django Unchained yang sarat akan sinisme dan komikal , 12 Years a Slave menggambarkan setiap kekerasan yang terjadi saat itu diwakili oleh adegan - adegan yang tersusun dengan rapi dan mengalir dengan efisien sekali. Scoring yang samar - samar tapi 'nyakitin' gubahan Hans Zimmer juga semakin membuat film ini sulit untuk dihilangkan dari memori.

Left - right : Michael Fassbender , Lupita Nyong' O & Chiwetel Ejiofor



Dari segi acting, ini.... sungguh keterlaluan sekali kalau Oscar tidak melirik satupun talent dari film ini, Beberapa nama yang sedang 'in' seperti Benedict Cumberbatch serta Quvenzhane Wallis ( Beast of Southern Wild  ) ada disini sebagai karakter pendukung. 

Tapi disamping nama yang saya sebut tadi inilah nama yang berkesan di saya ; Michael Fassbender . 
Ya , aktor berdarah Jerman - Irish ini memerankan seorang 'plantation owner' atau sebut saja Majikan bernama Edwin Epps. Ia bisa jadi tokoh paling sadis disini , tapi tidak lantas akan membuat penonton benci setengah mati padanya. karena karakter Edwin Epps sebenarnya multidimensional , tapi karena tekanan jaman membuat ia begitu cruel dan kelihatan tidak berperasaan. Michael Fassbender sendiri adalah aktor yang sudah sering bekerjasama dengan Steve McQueen sejak feature film pertamanya yaitu Hunger ( 2008)

Saya juga terpukau dengan impresi akting dari duo 'Paul' yaitu Paul Gimatti yang berperan sebagai "reseller" budak serta Paul Dano , salah satu aktor underrated favorit saya yang bisa dibilang tidak pernah tampil mengecewakan semenjak awal karir-nya di film indie  L.I.E . Belum lagi Sarah Paulson yang berperan sebagai Mrs. Epps yang kecemburuannya pada salah satu budak (Lupita Nyong'O) membuat perlakuannya semakin mem-boost mr. Epps untuk bertindak lebih jauh pada para budaknya.

Sebuah penggambaran akan kepiluan pada suatu masa yang ditunjang dengan directing yang menawan tapi secara konsisten membuat hati miris , pedih , dan bisa mengajak kita untuk semakin peduli pada sesama yang mungkin tidak memiliki sejarah sekelam Solomon , tetapi memang layak untuk tetap menerima hak yang sama.

Ya saya nggak jago menggunakan kata kiasan. yang pasti kalau ada yang me-mention judul film ini di sekitar saya, Saya cuma keinget satu reaksi ekspresi : ngilu ,Gan !. >.<



Sabtu, 02 November 2013

GLORIA ( 2013 ; Sebastian Leilo )


'Gloria'. Seperti judulnya mengisahkan seorang perempuan ( Paulina Garcia ; ultimately enchanting ) yang sudah berumur ,seorang ibu, single parent yang mengalami masa bosan pada hidupnya. Rutinitasnya berjalan terus, ia pun tak terhindar dari minum - minuman keras dan dunia malam.

Ibu Gloria sepertinya membutuhkan sesuatu.Sesuatu yang bisa mengisi hari - harinya yang sudah uzur ini. Ya. Ia masih butuh pendamping untuk hidupnya. Seringkali ia bertemu sapa dengan kerabat lama , tapi belum ada satupun yang bersedia serius dengannya.

Sampai pada suatu malam ia bertemu dengan seseorang laki - laki. Yang mungkin sedikit lebih tua darinya, memberi tatapan yang mungkin lama tidak pernah dirasakan oleh ibu Gloria. Pria itu bernama Rodolfo ( Sergio Hernandez ) . Rupanya pria tersebut cocok dengan ibu Gloria. maka berlanjutlah perkenalan mereka. Namun , apakah semua akan berjalan lancar sesuai yang diharapkan?



Dari tema-nya, Gloria sebenarnya bukan tema yang 'fresh' juga ya. Hollywood punya Venus ( 2006) yang dibintangi oleh Peter'o Toole. Juga tahun kemarin ada Beginners yang diperan utamai oleh Christopher Plummer serta Ewan McGregor. Namun meskipun memiliki tema seragam, 'Gloria' nggak lantas menjadi satu drama yang ngebosenin kok, Gloria memiliki intensitasnya tersendiri, semua muncul di saat yang pas dan natural. Di- boost lagi oleh lead performance dari aktris senior Paulina Garcia yang bermain dengan konsisten dan penuh simpati. Serius deh , Ada beberapa moment rasanya ingin sekali memeluk beliau ketika melihat performanya disini.

Gloria nggak jadi melodrama sederhana karena keberaniannya menunjukkan tindakan - tindakan. Mungkin secara tersirat film ini menanamkan betapa manusia akan bertindak di luar batas tanpa memandang usia , atau malah sebaliknya menunjukan betapa usia tidak menjadi suatu halangan yang berarti demi merasakan lagi yang namanya Cinta. Sebagai salah satu perwakilan foreign film di kancah Oscar nanti, film in juga nggak terlalu menggambarkan kultur setempat yang definitif tetapi tetap menjadi sebuah sajian yang menyentuh dan meluluhkan hati kita. Ayo dicoba, tapi 21+ ya. :)